Sahutan ayam
berselang-seling menandakan fajar sudah datang. Dinginnya pagi masih menyelimuti
seluruh desa termasuk rumah Basri atau yang akrab dipanggil Sri. Hingga
membuatnya kembali terlelap di kasur favorit dengan selimut bergambar Doraemon,
salah satu kartun animasi dari Jepang. Samar-samar terdengar suara yang tidak
asing lagi memanggil namanya sambil beberapa kali mengetuk pintu.
“Sri, Ayo tangi sholat Subuh sek wes awan!” suara emak
membangunkannya dari mimpi yang indah.
Sekilas ia memandangi
jam yang terletak di nakas sebelah
tempat tidur sehingga membuatnya terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul
6 WIB. Untung saja sedang libur akhir semester setelah sebelumnya ia bergulat
dengan soal-soal Ujian Nasional SMP. Ia pun bergegas meninggalkan tempat tidur
untuk mengambil air wudhu entah sholatnya sah atau tidak.
Setelah itu,
seperti biasa ia membantu ibunya untuk mengantarkan dagangan getuk di Pasar Rejowinangun setelah sebelumnya
mandi dan merapikan tempat tidurnya. Sudah beberapa hari ini ia tidak ditemani oleh
kakaknya karena setiap pagi entah pergi kemana. Matahari pagi begitu hangat
menyentuh kulit dengan titipan vitamin D dibalik sentuhannya saat Sri mulai
keluar rumah. Terima kasih pada Tuhan atas kesempatan yang terus diberikan-Nya
untuk merasakan indahnya pagi di sebuah desa di bawah kaki Bukit Tidar ini yang
sangat terkenal dengan getuk, makanan
khasnya. Diperjalanan menuju pasar ia bertemu dengan Mas Didin, kakaknya.
“Mas Didin, ajeng teng pundi?” tanya Sri penasaran.
“Biasa Telolet karo
kanca-kancaku, pamitke emak ya, Sri!” seru Mas Didin sambil berlari menuju
jalan raya.
Sesampainya di
pasar ia pun bergegas menuju kios Bu Janah langganannya yang tidak jauh dari pintu
masuk.
“Bu, ini getuknya ditaruh mana?” tanya Sri.
“O iya Sri, taruh
dekat panganan itu saja,” jawab Bu Janah sambil menunjuk salah satu makanan.
“Sri, Didin
kemana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan
raya. Katanya sih mau Telolet, Bu,” jawab Sri.
“O alah, Din,
Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu
akhirat,” saran Bu Janah.
“Pantas saja biasanya
ke sini pagi sekali,” tambah Bu Janah.
Akhir-akhir ini
memang sedang booming fenomena “Om
Telolet Om” diberbagai daerah termasuk Magelang yang mana banyak orang dari
anak-anak hingga dewasa menunggu bus yang datang untuk membunyikan klakson yang
unik yang mereka anggap sebagai kesenangan tersendiri termasuk kakaknya.
Setelah selesai
mengantar dagangan ia pun langsung pulang untuk sarapan. Di meja makan ibu
menanyakan keberadaan Mas Didin.
“Sri, masmu nang
endi? kok malah ketungkul dolan wae?”
tanya Emak penasaran.
“Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan
raya. Katanya sih mau Telolet, Mak,” jawab Sri.
“O ya wes, cari nek masmu bali kon makani pitik ya,” perintah Emak sambil membereskan meja makan.
“Inggih, Mak,”
jawab Sri
Matahari mulai
terik saat Mas Didin sampai di rumah. Sri pun langsung memberitahukan pesan emak kepada kakaknya. Namun, diluar dugaan kakaknya malah menolak amanah emaknya. Sri pun mengadukan hal itu kepada emak yang membuatnya marah terhadap
anak sulungnya.
“Didin, emak wes terlalu sabar ngadepi kowe, dolan wes
tak olehke tapi kudu ngerti wayah, bantu-bantu omah, manut karo wong tuwo,” pinta emak dengan air mata mulai berlinang.
“Maafkan Didin, Mak,
sudah melawan perintah Emak juga tidak pernah membantu pekerjaan rumah karena
asik menunggu Telolet di jalan,” kata Didin sambil terisak setelah menyadari
kesalahannya.






